Warna Batik


Yang dimaksud dengan warna batik adalah zat warna tekstil yang dapat untuk memberi warna pada batik. Tidak semua jenis daripada zat warna tekstil dapat untuk memberi warna pada batik. Hanya khusus beberapa jenis saja yang dapat untuk batik, disebabkan antara lain:

  1. Pada pewarnaan batik dikerjakan tanpa pemanasan karena batik memakai lilin batik.
  2. Lilin batik pada umumnya tidak tahan terhadap alkali kuat.
  3. Pada pekerjaan terakhir daripada proses pembuatan batik, terdapat menghilangkan lilin atau lorodan dengan air panas, tidak semua cat tahan terhadap rebusan dalam air lorodan.

Zat warna alam (natural dyes) adalah zat warna yang diperoleh dari alam/ tumbuh-tumbuhan baik secara langsung maupun tidak langsung. Agar zat pewarna alam tidak pudar dan dapat menempel dengan baik, proses pewarnaannya didahului dengan mordanting yaitu memasukkan unsur logam ke dalam serat  (Tawas/Al). Bahan pewarna alam yang bisa digunakan untuk tekstil dapat diambil pada tumbuhan bagian Daun, Buah, Kuli kayu, kayu atau bunga. Tumbuhan penghasil warna alam selain tersebut di atas, sampai saat ini sudah ditemukan sekitar 150 jenis tumbuhan yang diteliti oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Tanaman lain diantaranya: Morinda citrifolia (Jawa: pace, mengkudu, Hawai: noni), menghasilkan warna merah dari kulit akar, warna soga dihasilkan oleh tiga jenis tanaman yang digabungkan atau diekstrak bersama-sama antara Ceriops condolleana (Jawa: tingi), Pelthopherum pterocarpum (Jawa: jambal) dan Cudrania javanensis (Jawa: tegeran) dicampur menjadi satu, dengan perbandingan 4:2:1 yang berasal dari kayu atau kulit kayunya. Ada tiga tahap proses pewarnaan alam yang harus dikerjakan yaitu: proses mordanting (proses awal/pre-treatment), proses pewarnaan (pencelupan), dan proses fiksasi (penguatan warna).

Zat warna sintetis (synthetic dyes ) atau zat wana kimia mudah diperoleh, stabil dan praktis pemakaiannya. Zat Warna sintetis dalam tekstil merupakan turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, toluena, naftalena dan antrasena diperoleh dari ter arang batubara  (coal, tar, dyestuff) yang merupakan cairan kental berwarna hitam  dengan berat jenis  1,03  –  1,30 dan terdiri dari  despersi karbon dalam minyak. Minyak tersebut tersusun dari beberapa jenis senyawa dari bentuk yang paling sederhana misalnya benzena  (C H ) sampai bentuk yang rumit mialnya 6 6 krisena  (C H ) dan pisena (C H ) .Macam-macam zat warna sintetis 18 12 22 n antara lain:

  1. Zat warna Direk
  2. Zat warna Asam
  3. Zat warna Basa
  4. Zat warna Napthol
  5. Zat warna Belerang
  6. Zat warna Pigmen
  7. Zat warna Dispersi
  8. Zat warna Bejana
  9. Zat warna Bejana larut (Indigosol)
  10. Zat warna Reaktif

Tidak semua zat warna sintetis bisa dipakai untuk pewarnaan bahan kerajinan, karena ada zat warna yang prosesnya memerlukan perlakuan khusus, sehingga hanya bisa dipakai pada skala industri. tetapi zat warna sintetis yang banyak dipakai untuk pewarnaan bahan kerajinan antara lain:

2.4.1.  Zat warna naphtol

Zat warna naptol terdiri dari komponen naptol sebagai komponen dasar dan komponen pembangkit warna yaitu garam diazonium atau disebut garam naptol. Naptol yang banyak dipakai dalam pembatikan antara lain:

Naptol AS-G         Naptol AS-LB

Naptol AS-BO       Naptol AS-D

Naptol AS               Naptol AS.OL

Naptol AS-BR       Naptol AS.BS

Naptol AS-GR

Garam diazonium yang dipakai dalam pembatikan antara lain:

Garam Kuning GC         Garam Bordo GP

Garam Orange GC         Garam Violet B

Garam Scarlet R            Garam Blue BB

Garam Scarlet GG         Garam Blue B

Garam Red 3 GL           Garam Black B

Garam Red B

2.4.2.  Zat warna indigosol

Zat warna Indigosol atau Bejana Larut adalah zat warna yang ketahanan lunturnya baik, berwarna rata dan cerah. Zat warna ini dapat dipakai secara pecelupan dan coletan . Warna dapat timbul setelah dibangkitkan dengan Natrium Nitrit dan Asam/ Asam sulfat atau Asam florida.  Jenis warna Indigosol antara lain:

  1. Indigosol Yellow    Indigosol Green IB
  2. Indigosol Yellow JGK  Indigosol Blue 0 4 B
  3. Indigosol Orange HR  Indigosol Grey  IBL
  4. Indigosol Pink IR   Indigosol Brown IBR
  5. Indigosol Violet ARR  Indigosol Brown IRRD
  6. Indigosol Violet 2R  Indigosol Violet IBBF

2.4.3.  Zat warna rapid

Zat warna rapid biasa dipakai untuk  coletan jenis rapid fast.  Zat warna ini adalah campuran komponen  naphtol dan garam  diazonium yang distabilkan, biasanya paling banyak dipakai  rapid merah, karena warnanya cerah dan tidak ditemui di kelompok indigosol.

2.4.4.  Zat warna reaktif

Zat warna reaktif bisa digunakan untuk pencelupan dan pencapan (printing).  Zat warna reaktif berdasarkan cara pemakaiannya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:  reaktif dingin dan reaktif panas. Untuk zat warna reaktif dingin salah satunya adalah zat warna procion, dengan nama dagang Procion MX, yaitu zat warna yang mempunyai kereaktifan tinggi dan dicelup pada suhu rendah. Zat warna reaktif termasuk zat warna yang larut dalam air dan mengadakan reaksi dengan serat selulosa, sehingga zat warna reaktif tersebut merupakan bagian dari serat. Oleh karena itu sifat-sifat tahan luntur warna dan tahan sinarnya sangat baik. Nama dagang zat warna teraktif, sebagai berikut:

  1. Procion (produk dari I.C.I)  Drimarine (produk Sandoz)
  2. Cibacron (produk Ciba Geigy)  Primazine (produk BASF)
  3. Remazol (produk Hoechst)  Levafix (produk Bayer)

2.4.5.  Zat warna indanthrene

Zat warna indanthrene normal termasuk golongan zat warna bejana yang tidak larut dalam air. proses pencelupannya tidak perlu penambahan elektrolit karena mempuyai daya serap yang tinggi. Pemakaian reduktor dan alkali banyak dan dicelup pada suhu (40-60°C). Contoh zat warna Indanthrene:

  1. Helanthrene Yellow GC MP
  2. Helanthrene Orange RK MP
  3. Helanthrene Brilian Pink RS MP
  4. Helanthrene Blue RCL MP
  5. Helanthrene Green B MP
  6. Helanthrene Brown BK MP

2.4.6.  Zat warna pigmen

Adalah zat  warna yang tidak larut dalam  segala macam pelarut. Zat warna ini sebetulnya tidak mempunyai  afinitas terhadap segala macam serat. Pemakaiannya untuk bahan tekstil memerlukan suatu zat pengikat yang membantu pengikatan zat warna tersebut dengan serat.pengikat yang digunakan yaitu emulsi (campuran dari emulsifier, air dan minyak tanah) yang dicampur dengan putaran tinggi. Zat warna pigmen banyak digunakan untuk cetak saring, tidak layak digunakan sebagai pencelupan. Contoh nama dagang zat warna pigmen:

  1. Acram in (Bayer)
  2. Helizarin (BASF)
  3. Sandye ((Sanyo)Pristofix (Sandoz)
  4. Alcilan (I.C.I).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: