Pengolahan Benang Sutera


Bahan baku
Sutera adalah salah satu serat alam, yang berasal dari hewan, yaitu ulat sutera. Serat dibuat pada saat ulat sutera akan berubah menjadi kepompong dan kemudian ngengat. Lapisan-lapisan serat-serat sutera pada saat proses pembuatan kokon.
Serat sutera merupakan satu satunya serat alam yang berbentuk filamen. Filamen adalah serat yang kontinyu. Pengambilan serat dilakukan dengan jalan menguraikan kokon dengan alat yang biasa disebut mesin Reeling.
Jenis serat sutera ada dua macam, yaitu :
• Cultivated silk, adalah serat sutera yang dihasilkan dari ulat sutera yang dipelihara
dengan saksama. Pemeliharaan dilakukan dari mulai telur ulat menetas sampai dengan masa pembuatan kokon.
• Wild silk, adalah serat sutera yang dihasilkan dari ulat sutera yang tidak dipelihara, yaitu yang memakan daun pohon oak.

Pengolahan Kokon
Proses pengolahan kokon menjadi benang sutera dilaksanakan sebagai berikut :
• Proses persiapan.
Kokon yang tidak akan menjadi bibit, dikumpulkan untuk dimatikan kepompongnya agar tidak menjadi kupukupu yang akan menerobos kokon. Bila kokon diterobos, maka filamen akan rusak.
– Penjemuran dibawah sinar matahari selama beberapa jam.
– Menggunakan aliran uap air pada ruangan yang berisi kokon. Suhu didalam ruangan kokon harus dijaga tetap, berada antara 65°C – 75°C. Pengerjaan dilakukan selama 15 – 25 menit.
Setelah dimatikan kepompongnya, kemudian kokon dikeringkan dalam ruangan pengering.
– Menggunakan aliran udara panas. Cara ini dilakukan dalam suatu alat atau ruang pengeringan. Suhu ruang pengering diatur mulai 50° berangsur-angsur naik sampai dengan ± 95ºC. Pengerjaan dilakukan selama 20 – 30 menit.
– Menggunakan obat-obatan.

Proses Pemilihan Kokon
Kokon yang telah dimatikan kepompongnya sebelum mengalami proses, sebelumnya perlu dipilih yang dilakukanpada bagian penyortiran yang meliputi pekerjaan :
– Pembersihan dan pengupasan serat-serat bagian luar kokon.
– Pemisahan kokon yang besar dan kecil
– Pemisahan kokon cacat dan kotor.

Pembuatan Benang dengan Mesin Reeling
Sebelum kokon dapat diuraikan menjadi benang pada mesin reeling, terlebih dahulu harus dimasak dengan air panas yang bersuhu ± 95ºC selama 1 – 2 menit. Pemasakan ini dilakukan agar ujung-ujung serat-serat filamen sutera mudah dicari dan diuraikan pada saat reeling. Penguraian dan pencarian ujung filamen dilakukan dengan peralatan sikat yang berputarputar pada mesin Reeling.
Air yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat :
– Harus bersih, jernih dan bebas dari macam-macam kotoran.
– Sedapat mungkin netral atau sedikit alkalis dengan pH 6,8 – 8,5.
– Kesadahan diantara 8º – 10º, kesadahan Jerman.
– Sisa penguapan 0,15 – 0,2 gr/1.
Pada mesin reeling konvensional sejumlah ujung filamen dari beberapa buah kokon, disatukan dan ditarik melalui pengantar, kemudian digulung pada kincir atau haspel. Filamen dapat diberi sedikit antihan agar dapat saling berpegangan satu sama lainnya.
Setiap pekerja dapat memegang mesin Reeling sampai 20 mata pintal. Biasanya setiap mata pintal terdiri dari 5 – 8 buah kokon. Pada mesin Reeling otomatis yang dilengkapi dengan alat pencari dan penyuap filament secara mekanis, seorang pekerja dapat memegang 400 – 600 mata pintal, dengan kemampuan produksi 3 – 4 kali mesin Reeling konvensional.
Serat yang dihasilkan digulung dalam bentuk streng, kemudian dibundel dengan ukuran berat
± 6 pound, yang disebut “books”. Selanjutnya books-books ini dipak dalam bentuk bal, yang dapat langsung dikapalkan.
Benang sutera tersebut setelah sampai di pabrik Pertenunan atau Perajutan, sebelum digunakan biasanya dilakukan pengerjaan-pengerjaan persiapan, sebagai berikut :
– Penggulungan kembali pada spool
– Penggintiran dengan mesin gintir
– Untuk memantapkan antihan terlebih dahulu dimasukkan kedalam kamar uap selama ± 30 menit
– Penghilangan serisin Pemintalan dengan mesin Reeling dapat dilakukan dalam
dua cara, yaitu :
• Cara Italy atau cara tavelle, dimana sekelompok filament kokon dipersatukan dan dililitkan satu sama lain (untuk mendapatkan benang yang rata dan daya lekat yang tinggi antar filamenfilamennya). Cara ini banyak digunakan di Indonesia.
• Cara Perancis atau cara Chambron dimana dua kelompok filamen kokon dililitkan satu sama yang lain. Kemudian lilitan tersebut dipisahkan kembali untuk digulung pada dua kincir yang terpisah.

Untuk jelasnya dibawah ini digambarkan salah satu contoh mesin Reeling Sutera.

Limbah Sutera
Limbah sutera terdiri dari :
• Limbah yang terjadi pada saat pengerjaan pada mesin reeling.
• Bagian dalam kokon yang tidak berguna.
• Limbah kokon cacat yang filamennya terputus.
• Limbah yang terjadi pada saat pengerjaan penggintiran pada mesin gintir.

Limbah sutera tersebut diatas kemudian dipak dan dikirimkan ke Pabrik Pemintalan dalam bentuk bal. Sebelum dikerjakan, limbah ini terlebih dahulu dibersihkan dan dimasak (degumming) yang dapat dilakukan dengan dua cara/proses, seperti :
• Proses Inggris, yaitu dengan memasak atau merebusnya dalam larutan sabun. Larutan ini melarutkan serisin dan menghasilkan filamen halus.
• Proses kontinental, yaitu dengan menggunakan teknik fermentasi pada mana ± 20% dari serisinnya masih terkandung dalam bahan sutera tersebut.

Bahan sutera yang telah mengalami pemasakan selanjutnya dikerjakan dengan mesin-mesin yang sama seperti, pada proses pengerjaan wol dan seratserat staple lainnya. Serat-serat mengalami pengerjaan pembukaan, penguraian dan peregangan serta penyisiran. Kemudian
disuapkan pada mesin Roving dan mesin Ring Spinning serta Twisting. Hasil benangnya disebut Spun Silk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: