Mesin “Re-reeling” Pemintal Sutra Hemat Energi


PEMBIAKAN ulat sutra sudah bukan berita baru bagi masyarakat kebanyakan. Sejak diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-10, pembudidayaan ulat sutra mengalami timbul tenggelam. Era 1970-an, budidaya sutra kembali merebak dan mulai tertata meski hingga kini produksi benang sutra nasional tidak dapat mencapai lebih dari 500 ton per tahun. Jumlah tersebut jauh di bawah kebutuhan dalam negeri sendiri yang mencapai sekitar 2000 ton per tahun.

Meski begitu, banyak perajin ulat sutra yang masih tetap bertahan. Pembudidayaannya berpusat di Sulawesi, namun banyak juga terdapat di Jawa Barat, seperti Garut. Meski untuk penyediaan telur tetap berasal dari Sulawesi atau bahkan diimpor dari Jepang dan Cina.

Di Bandung, peternakan ulat sutra salah satunya dilakukan di Padepokan Dayang Sumbi dan dikelola oleh Dedi Agus Wirantoro yang merupakan anak dari Wibowo Moerdoko, salah seorang pakar sutra Indonesia. Dedi yang memiliki latar belakang teknik mesin melakukan beberapa penemuan pada alat reeling (pemintal) serat sutra menjadi benang.

Untuk mengefektifkan kerja pemintalan serat sutra dari kokon (kepompong), Dedi membuat sebuah mesin re-reeling yang berfungsi memintal serat dari kokon untuk dijadikan benang. Dedi terinspirasi oleh mesin pemintal serat sutra zaman dahulu yang masih menggunakan pemutar tangan.

Alat yang digunakan Dedi sudah menggunakan mesin seperti alat pintal yang banyak digunakan perajin ulat sutra lainnya. Bedanya, alat temuan Dedi memiliki dua sensor kualitas serta pemakaian listrik yang lebih hemat. “Mesin pemintal di luar negeri juga telah memiliki sensor, namun menggunakan lebih dari 750 watt listrik sekali pakai. Sementara mesin ini hanya membutuhkan 125 watt untuk maksimal kerja 24 jam,” kata Dedi.

Keunggulan mesin yang terdiri dari empat set pemintalan ini disebutkan Dedi karena dirancang memiliki mekanisme kerja yang lebih ringan. Beberapa komponen mesin juga terbuat dari bahan yang lebih ringan, serta adanya belt (sabuk) dari karet yang membantu kerja pemilinan serat.

Serat sutra dihasilkan oleh sepasang kelenjar sutra (silk gland). Selama dua hari satu malam ulat sutra memuntahkan sekretnya untuk membuat kokon. Sekret ini berupa serat ganda (double phylament) yang terdiri dari fibroin dan serisin. Benang sutra terbuat dari beberapa serat yang di-reeling (dipilin) menjadi satu.

Pemintalan serat

Kokon yang telah berumur delapan hari direbus selama 5-10 menit. Tujuannya untuk melepaskan zat perekat agar ujung serat yang melilit kokon dapat terlihat. Dibutuhkan 12-20 kokon untuk memintal sehelai benang sutra. Menurut Dedi, jumlah tersebut berdasarkan pengalamannya memintal benang sutra. “Dari segi kualitas, ketebalannya telah mencukupi. Jika lebih tipis dari itu kualitas benang tidak maksimal. Jika lebih tebal dari itu, benang akan menggulung dan menghambat pemintalan,” katanya.

Maka dari itu, Dedi menggunakan sebuah Seriframe untuk menghasilkan kokon yang besar dan ukurannya sama. Menurut Dedi, selama proses pembuatan kokon, ulat sutra membutuhkan sebuah alat untuk bergelantung.

Setelah direbus, kokon dimasukkan ke dalam wadah rendaman air yang terdapat dalam mesin reeling. Fungsi perendaman kokon adalah agar zat serisin tidak lagi merekatkan serat-serat kokon sehingga memudahkan pemilinan.

Ke-12 ujung serat kokon dipilin dan dimasukkan ke dalam rongga lubang penyaring. Lubang ini sangat kecil sehingga untuk meloloskan serat dibutuhkan bantuan ijuk. Setelah itu serat akan masuk ke dalam lubang sebuah mangkok keramik kecil. Ini merupakan sarana kontrol pertama yangi berfungsi untuk menyaring kotoran dan memutuskan benang yang kusut.

Lalu, serat dililitkan pada lima rol penggintir. Seraya dililitkan, serat dipilin-pilin sehingga tidak ada satu serat pun yang bebas. Dua rol penggintir terakhir dihubungkan oleh sebuah sensor yang berfungsi sebagai sarana kontrol kedua. Sensor ini berupa alat seperti gerinda yang memiliki celah untuk mengukur ketebalan benang. Jika benang keluar dari celah maka ukuran benang terlalu tebal, dan jika benang tidak mencukupi lebar celah maka benang terlalu tipis.

Prinsip kerja alat ini menggunakan teknik geser yang terhubung dengan jaringan listrik di bagian belakang sensor. Jaringan listrik ini tersambung dengan dua lampu indikator merah dan biru. Jika benang terlalu tebal, lampu biru akan menyala. Untuk memperbaikinya, kokon diambil satu persatu dari wadah perendaman hingga lampu biru mati. Jika benang terlalu tipis, lampu merah akan menyala, untuk itu perlu ditambahkan kokon lalu kaitkan ujung seratnya dengan serat lain yang sedang dipilin.

Setelah melewati sensor, serat akan digulung oleh haspel (pemutar benang). Bentuknya berupa pipa-pipa yang dirangkai menjadi segi enam. Keempat haspel akan berputar untuk menggulung serat yang telah dipilin menjadi benang. Kerja haspel inilah yang dibantu oleh belt sehingga lebih menghemat listrik.

Penggulungan benang

Dari mesin reeling, benang diangkat lalu dikeringkan di mesin re-reeling. Alat ini juga menggunakan mesin dan memiliki rangkaian mirip haspel untuk menggulung sambil mengeringkan benang (winding and twisting). Kecepatan mesin ini mampu memilin benang 400 pilinan per menit (twister per minute/tpm).

Ada dua macam kemasan benang dari alat ini yaitu dalam bentuk kelosan (kemasan benang) dan tanpa kelosan. Benang kelosan dapat mencapai 8 ons per buah tergantung ukuran kelosan. Sementara benang tanpa kelosan akan dikepang dan sudah bisa dijual.

“Biasanya kami menjual benang sutra kepangan kepada perajin sutra karena harganya lebih murah daripada benang kelosan. Lagi pula, benang kelosan biasanya kami gunakan sendiri untuk menenun kain,” kata Dedi.

Penenunan kain

Permukaan kain sutra tidak selalu halus, ada juga yang kasar bergantung pada proses pembuatan. Untuk membuat kain sutra halus, benang sebelumnya direndam dalam detergen selama satu jam. Setelah itu, benang disiapkan dalam alat persiapan tenun (mikane). Alat ini akan membuat gulungan benang lebih besar lagi yang disebut bum yang berukuran 1 meter lebih dan dapat menggulung benang hingga 50 meter.

Bum lalu dipasang pada ATBM (alat tenun bukan mesin). ATBM biasa digunakan untuk menenun kain sutra tingkat industri rumahan (bukan pabrik). ATBM terdiri dari beberapa jenis seperti pelat (tanpa corak), serta Dobby dan Jacquart yang memiliki corak. Untuk menentukan corak, ATBM Dobby menggunakan paku sedangkan Jacquart menggunakan lubang-lubang kartu plong. Tentu saja, Jacquart dapat menghasilkan berbagai corak yang lebih banyak bergantung pada pengaturan kartu.

Setiap ATBM terdiri dari dua jalur penenunan yaitu jalur lusi (horizontal-vertikal) dan jalur pakan (kiri-kanan). Tiga ribu helai benang akan dikaitkan pada setiap kamran yaitu alat seperti sisir. Kamran juga memegang gun yang nantinya akan menenun kain dari jalur lusi. Sementara untuk menenun lewat jalur pakan, digunakan teropong yang berisi palet. Teropong ini adalah sebuah bambu yang tengahnya berlubang untuk diisi palet. Palet adalah gulungan benang sutra lainnya selain benang yang dikaitkan pada kamran.

Kain hasil tenunan bisa langsung dijual dan biasa disebut putihan. Jika ingin mewarnai putihan sebaiknya menggunakan pewarna asam karena pewarna basa akan melunturkan sutra dan kain akan rusak.

Pikiran Rakyat, 10 Juli 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: